Jumat, 22 Januari 2010

Prosesi Siraman Pusaka “Kanjeng Kyai Upas”


Tulungagung, Sinta – Kabupaten Tulungagung memiliki pusaka andalan yang cukup terkenal yaitu Tombak Kyai Upas. Pusaka Tombak Kyai Upas sejak ada dan hingga kini masih saja dilestarikan keberadaannya dan setiap tahun tepatnya di bulan Suro dimandikan atau dijamasi di rumah Kanjengan Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung.
Sebelum acara jamasan Pusaka Kyai Upas berlangsung, terlebih dahulu diadakan acara Kirab Srono Mulyo, yakni sesaji atau segala keperluan untuk memandikan pusaka lebih dahulu di kirab keliling kota Tulungagung. Acara kirab Srono Mulyo dimulai dari Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung. Kirab yang menempuh jarak sekitar 3 km dan berlangsung cukup meriah karena peserta kirab membawa sesaji untuk jamasan Pusaka. Ada juga peserta dari Perangkat Desa/Kelurahan se Kabupaten Tulungagung yang mengenakan pakaian adat jawa, serta iring-iringan wanita cantik. yang berpakaian adat jawa. Siraman tombak Kyai Upas merupakan salah satu upacara adat kebesaran Kabupaten Tulungagung. Ini merupakan tradisi budaya yang harus dilestrarikan, maka setiap tahunnya diadakan upacara sakral ini.
Asal usul Pusaka Tombak Kyai Upas ini sendiri, menurut keluarga Pringgo Koesoemo dapat dikisahkan, salah seorang keluarga raja bernama Wonoboyo melarikan diri ke Jawa Tengah yang babat hutan di sekitar wilayah Mataram dekat Rawa Pening Ambarawa. Dia memiliki anak bernama Mangir, Setelah Wonoboyo dapat membabat hutan, maka ia bergelar Ki Wonoboyo dan dukuh tersebut dinamakan dukuh Mangir sesuai dengan nama puteranya.
Kemudian pada suatu hari Ki Wonosobo mengadakan selamatan bersih desa, banyak pemuda-pemudi yang membantu di dapur, diantara orang yang ada di dapur terdapat seorang pemudi yang lupa membawa pisau dan terpaksa dipinjaminya pisau oleh Ki Wonosobo yang berupa pusaka dengan pantangan jangan sekali-kali ditaruhkan di pangkuan. Tapi sang pemudi lupa, pada waktu itu beristirahat, pisau itu dipangkunya dan seketika musnahlah pusaka tadi. Dengan hilangnya pisau tersebut pemudi menjadi hamil padahal ia belum menikah. Ketika telah datang saatnya melahirkan maka bukannya melahirkan bayi, tetapi berupa ular naga yang diberi nama Baru Klinting.
Setelah besar Baru Klinting menananyakan siapa ayahnya dan oleh Ibunya dijawab ayahnya Ki Wonosobo yang pada waktu itu sedang bertapa di puncak gunung merapi, selanjutnya Baru Klinting menyusul ayahnya di Gunung merapi. Ki Wonosobo mau mengakui anaknya kalau bisa melingkari puncak gunung merapi, tetapi waktu Baru Klinting melingkari gunung kurang sedikit ia menjulurkan lidah untuk menyambung antara kepala dan ekor. Ki Wonoboyo mengetahui ini langsung saja memotong lidah baru klinting. Lidah berubah menjadi ujung tombak, kemudian baru klinting melarikan diri ke selatan mengetahui Wonoboyo mengejarnya, ia menceburkan diri ke laut berubah menjadi kayu dan oleh Ki Wonosobo diambil dipergunakan sebagai landean dan tombak tersebut diberi nama Kyai Upas. Ketika Ki wonoboyo meninggal tombak itu diberikan kepada puteranya Ki Ageng Mangir dan setelah memiliki pusaka tersebut Ki Ageng Mangir kebal karena pusakanya. Selanjutnya diberikan secara turun-temurun yang pada saat ini milik keluarga Pringgo Koesoema yang bertempat di Kanjengan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar